p>Memngucapkan dan menjawab salam sepertinya sudah menjadi hal lumrah dan rutin kita lakukan. Tapi, ya begitulah, karena kelumrahan dan kerutinan itu, maka kedalaman makna dan rasanya menjadi jarang kita rasakan. Seperti matahari yang terbit dan terbenam begitu saja, luput dari perhatian dan perenungan kita. Sekarang, mari kita renangi makna lebih dalam dan semoga setelah ini kita bisa merasakan dan memperoleh kedahsyatan salam, sehingga hidup kita selalu seperti apa yang ada di dalam salam itu (selamat dan ada di dalam rahmat dan berkah Allah).
Yang harus kita ingat adalah tanpa kita ucapkan dan sebarkan pun, sebenarnya Allah setiap saat sudah memberi Keselamatan, Rahmat, dan Berkat kepada semua milik-Nya. Karena Memang Dia adalah As Salam (Sang Maha Sejahtera). Dia adalah Ar Rahman (Sang Maha Pengasih Sayang), Dia adalah Al Barr (Sang Maha Berkebajikan).
Allah hanya ingin menegaskan posisi kita saja. Bersediakah kita menjadi hamba Allah (Abdullah) yang Abdussalam (hamba Allah yang menyebarkan Salam), yang Abdurrahman (hamba Allah yang menyebarkan kasih sayang), Abdul Barr (hamba Allah yang menyebarkan kebajikan).
Bagi Pemberi salam:
Keadaan atau suasana salam (keselamatan, Kesejahteraan), suasana rahmat (kasih, sayang), dan guyuran berkah (kebajikan) itu harus sudah ada terlebih dahulu. Suasana dan keadaan itu sudah diturunkan (anzala) oleh Allah kedalam dada kita saat kita bersedia untuk menerimanya. Keadaan dan suasana itu begitu kentara. Tanda-tandanya: dada kita begitu lapang dan luas, kita begitu bergairah untuk melakukan kebaikan dan kita seperti didorong untuk menyebarkannya kepada orang-orang yang ada disekitar kita, bahkan untuk alam semesta.
Jadi…milikilah dulu suasana dan kondisi itu. Sediakan diri kita untuk menerimanya. Ya allah, saya siap menerima keadaaan salam, rahmat dan barakah-Mu. Turunkanlah padaku ya Salam, ya Rahman, ya Barr….
Lalu rasakan alirannya memenuhi dada kita,sampai mengkristal.
Kalau sudah begitu, sadarilah bahwa sebenarnya Allah sedang berkata kepada kita:
“wahai hamba-Ku sampaikanlah titipan-Ku ini kepada mereka itu”.
“wahai wakil-Ku berikanlah titipan-Ku ini kepada mereka itu”.
“wahai transmiter-Ku pancarkanlah titipan-Ku ini kepada mereka itu”.
Lalu, tunduklah ta’zim kepada-Nya dan antarkanlah, kirimkanlah, pancarkanlah semua itu dengan niat yang tulus keluar dari dada kita sambil berucap: Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Sapukanlah suasana dan keadaan itu memenuhi alam semesta.Biar Allah sendirilah yang akan mengantarkan-Nya kepada mereka itu.
Bagi yang menerima ucapan salam:
Bersikap-siaplah dan bersedialah untuk menerima guyuran semua itu dengan rela. Siapkan dada kita untuk dipenuhinya. Waspada dan rasakanlah sampai (tiba-tiba) kita dimasukkan Allah pula kedalam keadaan dan suasana penuh dengan keselamatan, rahmat dan berkat itu. Lalu niarkan suasana dan keadaan itu mengkristal didalam dada kita buat sejenak. Setelah itu, barulah balas salam itu dengan niat dan ketulusan yang keluar dan terpancar dari dada kita (seperti posisi pemberi salam).
Jadi salam itu adalah peristiwa saling bertukar salam, rahmat dan berkat. Bukan ucapan kosong belaka.
Dan sangat masuk akal ketika satu orang mengucapkan salam kepada banyak orang, dia akan mendapatkan balasan yang beranak pinak dan berlipat ganda, berlimpah dari Allah.
Subhanallah…dahsyat!!!
Selamat mempraktekkan.
Wallahu a’lam
(terimakasih Pak Deka)
kata pengunjung