PRIBADI YANG LETIH DAN MELETIHKAN

Janganlah menjadi pribadi yang LETIH dan MELETIHKAN. 

Letih, karena dia mengkerdilkan jiwanya dengan membesarkan KELUHAN-KELUHAN-nya. 

Meletihkan, karena setiap dia mengeluh, lalu orang-orang baik datang membawa nasihat, si pngeluh ini justru menyiapkan 1000 alasan untuk MEMBANTAH nasihat itu dan berusaha sekuat tenaga untuk mengatakan bahwa sang pemberi nasihat itu SALAH. Dan sang pemberi nasihat pun dibuat letih karenanya. 

Inilah pribadi yang menderita tapi sombong dengan penderitaannya itu. Dia merasa paling menderita sedunia, tapi sekaligus paling benar. Kasihan sekali bukan? 

Pribadi yang damai dalam keberserahan enggan mengatakan: Oh Tuhan, aku mempunyai masalah yang begitu besaaaar. Tapi dia akan mengatakan: wahai masalah, sungguh aku mempunyai Tuhan yang Maha Besar. Sekali lagi, dalam keber-serahan-an tak ada ke-resah-an. 

Nasihat adalah kasih sayang. Maka ketika nasihat itu datang, semestinya kita merasa sedang disayangi, bukan merasa digurui apalagi disalah-(2)-kan.

 

E L A N G

Kita pasti tahu hewan terbang yang bernama ELANG. Bahkan semenjak kita duduk di bangku taman kanak-kanak, jenis burung satu ini sudah sangat familiar sebagai hewan yang perkasa di angkasa. Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia, yaitu bisa mencapai 70 tahun. Untuk mencapai umur tersebut, seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat dan tepat pada umurnya yang ke-40.

 

Ketika elang sampai pada umur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok sehingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, hal tersebut sangat menyulitkan sewaktu terbang. Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan :

1. Menunggu kematian

2. Menjalani proses transformasi yang sangat menyakitkan

 

Proses transformasi berlangsung selama lima bulan. Untuk dapat melakukan hal tersebut, elang harus berusaha keras terbang ke puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang dan tinggal disana selama proses transformasi berlangsung.

 

Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Paruh yang baru tumbuh itu digunakan untuk mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan harus berdiam menunggu sampai cakar yang baru bertumbuh. Yang terakhir adalah mencabut seluruh bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan.

 

Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh dan dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru maka elang akan mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi..!

 

Apa yang dapat kita petik dari kisah Elang tersebut…? Dalam kehidupan ini, kadang kita harus mengambil suatu keputusan yang sangat berat untuk memulai suatu proses pembaruan. Kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun hal itu semua adalah sesuatu yang menyenangkan kita. Selanjutnya kita harus mampu ikhlas untuk meninggalkan perilaku lama kita agar bisa mulai terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan. Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar pada hal-hal baru, maka kita akan mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yang kadangkala masih terpendam sehingga hasil akhirnya adalah terasahnya keahlian baru sehingga mampu menatap masa depan dengan penuh keyakinan.

YANG DISEMBUNYIKAN ALLAH

Allah menyembunyikan hal-hal berikut ini agar kita waspada, lebih membuka mata hati dan berhati-hati.

Ridlo dalam ketaatan
Allah menyembunyikan ridlo-Nya dalam setiap ketaatan. Kenapa disembunyikan? Agara kita waspada, dan tidak melewatkan atau pun menyepelekan ketaatan sekecil apa pun, karena siapa tahu dalam ketaatan yang kecil itu terdapat ridlo-Nya? Begitupun dalam ketaatan yang besar, betapa pun beeratnya ketaatan itu. Kebahagiaan apa lagi yang lebih besar daripada mendapat ridlo-Nya?.

Murka dalam kemaksiatan
Dalam kenikmatan maksiyat tersembunyi murka Allah. Tapi Allah tidak menampakannya langsung, agar kita lebih berhati-hati, tidak melakukan kemaksiatan, betapa pun kecilnya itu. Kemalangan apa lagi yang lebih besar daripada mendapat murka Allah?? .

Mati dalam umur
Allah menyembunyikan mati di dalam uur kita. Ini agar kita waspada, dan selalu mempersiapkan diri, menambah bekal kita, dan tidak terlena dengan gemerlap dunia. Sungguh, maut bisa menjemput kita kapan saja.

Wali-Nya di antara manusia-manusia
Sesungguhnya di antara sekalian manusia ini ada kekasih-kekasih (wali) allah. Hanya saja, Allah menyembunyikan mereka dari pandangan manusia. Bisa saja dari luar dia terlihat biasa-bisa saja, miskin, kumal atau berkesan tidak “nyantri”. Dan wali-wali Allah ini ada pada setiap golongan, ada dari kalangan edagang, pegawai, petani, guru ngaji, dan sebagainya. Nah, dengan tersembunyinya wali Allah dari pandangan kita, mengandung maksud agar kita tidak berlaku gegabah, sombong, atau pun bertindak buruk kepada orang lain, karena siapa tahu, dia adalah wali Allah.

Lailatul qadar di dalam Ramadhan
Tentang ini tentu sudah begitu masyhur. Dirahasiakannya kaan terjadinya lailatul qadar menyiratkan perintah kepada kita untuk “memperlakukan” semua haroi dan malam di bulan Ramadhan sebagai lailatul qadar. Maksudnya, kita mengisinya dengan ibadah dengan segala variannya dengan sebaik ungkin, dan sebanyak mungkin. Dengan demikian, kemungkinan untuk mendapatkannya akan semakin besar dan kita pun lebih bersemangat dalam melakukan aktivitas ibadah.

Intinya, demikianlah Allah merahasiakan (menyembunyikan) satu hal di balik hal lainnya, yang menuntut kita untuk terus membuka mata hati. Bukan hanya mata kepala apalagi mata kaki.

Wallahu a’lam.

AGAR MEMPEROLEH KEDAHSYATAN SALAM

p>Memngucapkan dan menjawab salam sepertinya sudah menjadi hal lumrah dan rutin kita lakukan. Tapi, ya begitulah, karena kelumrahan dan kerutinan itu, maka kedalaman makna dan rasanya menjadi jarang kita rasakan. Seperti matahari yang terbit dan terbenam begitu saja, luput dari perhatian dan perenungan kita. Sekarang, mari kita renangi makna lebih dalam dan semoga setelah ini kita bisa merasakan dan memperoleh kedahsyatan salam, sehingga hidup kita selalu seperti apa yang ada di dalam salam itu (selamat dan ada di dalam rahmat dan berkah Allah).

Yang harus kita ingat adalah tanpa kita ucapkan dan sebarkan pun, sebenarnya Allah setiap saat sudah memberi Keselamatan, Rahmat, dan Berkat kepada semua milik-Nya. Karena Memang Dia adalah As Salam (Sang Maha Sejahtera). Dia adalah Ar Rahman (Sang Maha Pengasih Sayang), Dia adalah Al Barr (Sang Maha Berkebajikan).

Allah hanya ingin menegaskan posisi kita saja. Bersediakah kita menjadi hamba Allah (Abdullah) yang Abdussalam (hamba Allah yang menyebarkan Salam), yang Abdurrahman (hamba Allah yang menyebarkan kasih sayang), Abdul Barr (hamba Allah yang menyebarkan kebajikan).

Bagi Pemberi salam:
Keadaan atau suasana salam (keselamatan, Kesejahteraan), suasana rahmat (kasih, sayang), dan guyuran berkah (kebajikan) itu harus sudah ada terlebih dahulu. Suasana dan keadaan itu sudah diturunkan (anzala) oleh Allah kedalam dada kita saat kita bersedia untuk menerimanya. Keadaan dan suasana itu begitu kentara. Tanda-tandanya: dada kita begitu lapang dan luas, kita begitu bergairah untuk melakukan kebaikan dan kita seperti didorong untuk menyebarkannya kepada orang-orang yang ada disekitar kita, bahkan untuk alam semesta.

Jadi…milikilah dulu suasana dan kondisi itu. Sediakan diri kita untuk menerimanya. Ya allah, saya siap menerima keadaaan salam, rahmat dan barakah-Mu. Turunkanlah padaku ya Salam, ya Rahman, ya Barr….
Lalu rasakan alirannya memenuhi dada kita,sampai mengkristal.

Kalau sudah begitu, sadarilah bahwa sebenarnya Allah sedang berkata kepada kita:
“wahai hamba-Ku sampaikanlah titipan-Ku ini kepada mereka itu”.
“wahai wakil-Ku berikanlah titipan-Ku ini kepada mereka itu”.
“wahai transmiter-Ku pancarkanlah titipan-Ku ini kepada mereka itu”.

Lalu, tunduklah ta’zim kepada-Nya dan antarkanlah, kirimkanlah, pancarkanlah semua itu dengan niat yang tulus keluar dari dada kita sambil berucap: Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Sapukanlah suasana dan keadaan itu memenuhi alam semesta.Biar Allah sendirilah yang akan mengantarkan-Nya kepada mereka itu.

Bagi yang menerima ucapan salam:
Bersikap-siaplah dan bersedialah untuk menerima guyuran semua itu dengan rela. Siapkan dada kita untuk dipenuhinya. Waspada dan rasakanlah sampai (tiba-tiba) kita dimasukkan Allah pula kedalam keadaan dan suasana penuh dengan keselamatan, rahmat dan berkat itu. Lalu niarkan suasana dan keadaan itu mengkristal didalam dada kita buat sejenak. Setelah itu, barulah balas salam itu dengan niat dan ketulusan yang keluar dan terpancar dari dada kita (seperti posisi pemberi salam).

Jadi salam itu adalah peristiwa saling bertukar salam, rahmat dan berkat. Bukan ucapan kosong belaka.

Dan sangat masuk akal ketika satu orang mengucapkan salam kepada banyak orang, dia akan mendapatkan balasan yang beranak pinak dan berlipat ganda, berlimpah dari Allah.

Subhanallah…dahsyat!!!
Selamat mempraktekkan.

Wallahu a’lam

(terimakasih Pak Deka)

LAPAR DAN HAUSNYA RAGA vs LAPAR DAN HAUSNYA JIWA

Kalau puasa begini, terasa benar lapar dan hausnya tubuh kita. Tubuh ini menjadi lemah dan membutuhkan makanan dan minuman. Maka tidak heran, menu hidangan buka maupun sahur mencuri sebagian perhatian kita.
Yang sering tidak kita sadari adalah bahwa hati kita, jiwa kita, ruhani kita pun sering mengalami lapar dan haus. Bahkan mungkin kelaparan dan kehausan. Kalau tubuh kekurangan asupan makanan dan minuman, kekurangan nutrisi, tentu ini berakibat tubuh menjadi lemah dan gampang sakit. Begitu pun hati dan jiwa kita. Kurangnya asupan padanya akan berakibat pada lemahnya hati dan jiwa. Akibatnya, orang jadi gampang sakit hati, atau bahkan sakit jiwa. Hehehe….na’udzubillah.
Masalahnya, tidak semua orang memiliki kepekaan dan kesadaran akan kekurangan gizi ruhani ini, karena ruhani yang sebenarnya selalu dalam kefitrahannya itu sering diperkuda hawa nafsu. Butuh pengendaian, butuh pengendalian.. Nah…. puasa dengan semua rangkain ibadah di dalamnya, sebenarnya makanan dan minuman sarat nutrisi bagi ruhani. Di saat perut kosong, di saat nafsu kita kalahkan, di saat itulah, ruhani, hati dan jiwa kita mendapat asupan gizi yang optimal. Ibarat batere yang dicash kembali untuk bekal perjalanan sebelas bulan ke depan, Insya Allah.
Karena itu, mari kita lebih mengenal diri kita, diri sejati kita, ruhani kita, dan mengenal sinyal-sinyal lapar dan haus yang dia rasakan. Apa indikasinya? Syeh Ibnu ‘Athaillah pernah memberi nasihat kurang lebih begini: kalau engkau berada dalam kebimbangan, di antara dua pilihan, maka pilihlah yang bertentangan dengan hawa nafsumu.
Jadi, indikasi bahwa ruhani kita mulai lapar dan haus, atau bahkan kelaparan dan kehausan, atau bahkan sudah sakit adalah ketika kita sudah semakin memperturutkan hawa nafsu.

Wallahu’alam.

TIDAK TERASA APA-APA? (2)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Q.S. Al Anfal ayat 2).
Orang yang berpikir tentu akan bertanya, dan lalu menghisab dirinya. Kalau dia mengaku beriman, lalu getaran hatinya sama saja antara ketika menyebut/mendengar asma Allah dengan menyebut/mendengar piring, gelas, apalagi DUIT, artis idola atau orang yang dicintainya……,
Lalu ketika dia yang megaku beriman membaca atau mendengar ayat-ayat Allah dan hatinya juga biasa-biasa saja, mulutnya tetap ribut sendiri, malah lebih khusyu ketika mendengar musik kesayangannya, sudah pasti ada yg salah dengan dirinya.
Pendeknya imannya harus terus dicash. Mari….

Wallahu a’lam.

TUJUNE

Dalam bahasa jawa ada kata-kata “tujune” atau untungnya. Kata-kata ini sering digunakan ketika terjadi suatu peristiwa dan berakibat buruk pada seseorang. En toh demikian, orang masih bisa berkata, untung. Misalnya, pada persitiwa kecelakaan, korbannya luka-luka ringan. Maka orang atau pun dia sendiri bilang: untung Cuma luka ringan.
Sekilas, ungkapan itu seperti ungkapan orang fatalis, pasrah dengan keadaan dan tidak mau berubah. Tapi mari kita lihat dengan kacamata yang lebih jernih. Kata-kata tadi sebenarnya adalah ungkapan seorang bijak, yang selalu bisa melihat sisi positif dari setiap peristiwa yang dialami. Kemampuan melihat sinar dalam kegelapan itu kemudian melahirkan rasa syukur, atas apa pun yang terjadi. “alhamdulillahi ‘ala kulli hal”.
Dengan ketajaman mata hati seperti itu, kita selalu sadar bahwa Allah menurunkan kesulitan dan kmudahan dalam satu paket. “inna ma’al ushri yusran.” Tinggal mana yang mnjadi fokus kita. Dengan kebijakan seperti itu, kita akan tetap berdiri saat terjatuh, bahagia ketika sakit. Sakit itu kejadian, tapi menderita adalah pilihan. Seperti pensil, dan pisau, yang tajam karena diraut dan diasah. Seperti permata, yang berkilau karena digosok.

Wallahu a’lam.

R E M

Bayangkan anda naik mobil mewah, dengan semua fitur dan kelengkapan serta kemampuan akselerasi yang bgitu handal. Mobil bisa melaju hingga kecepatan 300 km per jam, di dukung jalanan mulus. Dengan kondisi yang seperti itu tentu anda membayangkan akan cepat sampe ke tempat tujuan dengan nyaman.

Tapi apa jadinya kalau ternyata mobil itu gak ada remnya?

Begitu pun diri kita. Puasa ini adalah rem bagi nafsu2 kita, yang kalau dibiarkan akan berlari kencang semau mereka.

Wallahu a’lam.

RAMADLAN TERAKHIR

Alhamdulillah, kita telah sampai di Bulan Ramadlan. Bulan yang penuh kebaikan, panen rayanya ummat Islam. Untuk itu marilah kita berlomba memanfaatkan bulan suci ini dengan berbuat kebaikan sebanyak mungkin.

Tentu kita sudah sering mendengar tentang hikmah yang terkandung di bulan suci Ramadlan. Begitu seringnya kita mendengar, sampai-sampai begitu mudah juga kita melupakannya. Pun begitu ajakan-ajakan untuk mengisi bulan ramdlan dengan amal ibadah dan kebaikan. Semua seakan menjadi biasa-biasa saja, klise.

So, tantangannya adalah, bagaimana menjadikan Ramadlan benar-benar sebagai bulan yang sangat istimewa, yang penuh berkah, rahmat? Bagaimana mengubah siklus rutinitas Ramadan menjadi sesuatu yang berkesadaran.

Ini penting, karena salah satu kelemahan mendasar atas sebuah rutinitas adalah hilangnya ruh. Jika Ramadlan begitu saja hadir sebagai rutinitas, tanpa kita maknai dengan kesadaran, maka Ramadan tidak akan memberi makna yang mendalam. Ibarat matahari yang muncul setiap hari, tanpa kita maknai manfaat dan hakikatnya sebagai sebuah ni’mat, semua menjadi sebuah rutinitas biasa saja.

Salah satu tips agar kita lebih mampu menjalani bulan gemblengan ini (juga ibadah-ibadah) dengan lebih bermakna adalah dengan menyikapinya, seolah-olah ini adalah Ramadhan terakhir kita. Lagipula, bukankah tidak ada jaminan kcita akan menjumpai lagi ramadlan tahun depan? Dengan penyikapan ini, insya Allah kita lebih bersemangat, lebih khusyu’ dalam menjalani rangkaian ibadah Ramadlan.

(sikap yang sama juga bisa terapkan ketika hendak shalat dan melakukan ibadah/kebaikan lainnya)

Bekerjalah untuk kepentingan duniamu seolah–olah kamu akan hidup selama–lamanya, dan bekerjalah untuk kepentingan akhiratmu seakan–akan kamu akan mati esok”(H.R. Ibnu Asakir)

Wallahu a’lam

DAHSYATNYA HATI

Manusia adalah mahluk yang dahsyat. Bagaimana tidak. Apa pun  yang dilakukan oleh manusia akan direspon oleh alam. Tanpa kita sadari, enerji-enerji yang kita pancarkan baik positif maupun negatif akan direkam dan kemudian direaksi oleh alam. Hukum aksi reaksi.

Sebagai gambaran yang lebih jelas, berdasarkan dalil-dalil yang ada, kehancuran alam semesta, atau yang akrab disebut kiamat, terjadi setelah manusia  sudah tidak lagi menjadi manusia. Manusia hanya menjadi kendaraan hawa nafsu, yang nota bene itu adalah perilaku binatang.

Dengan mekanisme sunnatullah yang luar biasa, kehancuran  ahlak manusia, direspon oleh bumi dengan kehancurannya juga, yang kemudian direspon oleh alam semesta.  Dengan demikian, manusia sangat mempengaruhi alam semesta. Bahkan manusia menjadi semacam “pusat” alam semesta.

Itulah mengapa barangkali alien-alien,  dengan peradabannya yang sudah begitu maju melebihi manusia, begitu penasaran ingin mengenal manusia lebih dekat. Barangkali mereka heran, mengapa manusia yang begitu lemah dan kalah teknologi dibanding mereka begitu istimewa, begitu berpengaruh kepada alam semesta.

Kalau manusia menjadi semacam “pusat” bagi alam semesta, pertanyaannya selanjutnya adalah, di manakah pusat manusia??

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati.” [HR. Bukhari-Muslim].

Karena itu wahai sahabat, jagalah hati. Karena  hati ini begitu dahsyat. Tidak hanya berpengaruh bagi pemiliknya, bagi orang lain, tetapi juga bagi seisi bumu dan bahkan alam semesta.

Wallahu a’lam.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.